Sunday, September 27, 2015

WAKATOBI, Surga Bawah Laut

WAKATOBI - Garis pantai di pulau Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, menyediakan panorama keindahan bawah laut. Tak heran para penyelam menyebut Wakatobi surga bawah laut.
Wakatobi menawarkan pemandangan gugusan karang terindah di dunia. Hasil survei dilakukan para ahli menyebutkan sekira 70 persen dari total spesies karang atau coral di dunia berada di dasar laut Wakatobi. Karena itu, tak heran bila nama kabupaten hasil pemekaran dengan Baubau, Sulawesi Tenggara, itu identik dengan diving.
Di bawah pengawasan superketat, mulai melakukan discover scuba diving di spot Waha Bay, Pulau Tomia. Waha Bay dipilih karena selain pemandangan bawah lautnya menakjubkan, lokasinya tidak terlalu jauh dari garis pantai sehingga aman bagi penyelam pemula. Selain itu, arus dasar lautnya tidak terlalu kencang.
Ternyata tidak perlu menyelam terlalu dalam untuk membuktikan hasil survei tersebut. Baru menyelam sedalam satu atau tiga meter, penyelam sudah dibuat kagum dengan indahnya gugusan karang.
Keindahan pemandangan dasar laut Wakatobi semakin lengkap dengan kehadiran ikan-ikan,
binatang karang, dan tumbuhan. Ukuran ikan-ikan di titik tersebut cenderung kecil karena arus dasar lautnya tidak besar.
Seorang instruktur diving, Kandis Semidang, menjelaskan, salah satu karakter Wakatobi adalah banyaknya pinnacle atau puncak dari gunung-gunung kecil setinggi tiga hingga empat meter. Di puncaktersebut terdapat banyak karang yang menjadi rumah bagi ikan kecil.
“Selain itu banyak juga sloping atau jalan menurun dari permukaan ke dasar laut. Di sana banyak karang-karangnya,” jelas pria yang sudah menjadi instruktur selam sejak 2010 itu.
Kandis menambahkan, sebenarnya ada puluhan spot di sekitar Tomia yang menawarkan pemandangan lebih menakjubkan lagi. Di antara puluhan spot tersebut Marimabuk dan Ali Reef layak dijajal.
Di dua lokasi itu, arus dasar lautnya relatif lebih besar dibanding Waha Bay sehingga para penyelamnya pun harus ahli atau sudah certified.
Kandis menjelaskan, arus dasar laut yang lebih deras menjadi tempat bagi ikan berukuran besar di samping hewan laut lainnya. Kondisi ini tentu menjadi incaran para divers.
“Kalau di Ali Reef ada ratusan ikan yang hidup dan berjalan berkoloni. Mereka kemana-mana bersama sehingga menyuguhkan pemandangan menarik. Kalau orang kita bisa menyebutnya ikan kuwe atau lebih kerennya schooling jackfish,” beber instruktur yang juga mengelola dive center di Jakarta Selatan.

Sedangkan di Marimabuk, divers bisa menyaksikan dari dekat barracuda dan crocodile fish.
Dia menegaskan, diver tidak diperkenankan memegang sembarang ikan karena bisa jadi hewan tersebut beracun. Di laut Wakatobi juga bermukim ular laut, namun mereka tidak akan mengganggu para divers.

Keindahan laut Wakatobi mendunia. Setiap hari ada saja wisatawan asing yang melakukan diving di Tomia. Mereka umumnya merupakan para penyelam andal dan bisa berada di Tomia berhari-hari bahkan lebih dari sepekan untuk sekadar menelusuri sebanyak-banyaknya spot.
“Sekarang ini ada dari Jepang, California Amerika, juga negara lain. Mereka suami istri mau diving, sudah berhari-hari di sini,” tutur Abi, seorang pemilik resort di Kelurahan Waha, Kecamatan Tomia.
Para turis asing melakukan diving sejak pagi hingga sore setiap hari menyewa perahu warga serta didamping instruktu

No comments:

Post a Comment