WAKATOBI - Garis pantai di pulau Kabupaten Wakatobi,
Sulawesi Tenggara, menyediakan panorama keindahan bawah laut. Tak heran para
penyelam menyebut Wakatobi surga bawah laut.
Wakatobi menawarkan pemandangan gugusan karang terindah di
dunia. Hasil survei dilakukan para ahli menyebutkan sekira 70 persen dari total
spesies karang atau coral di dunia berada di dasar laut Wakatobi. Karena itu,
tak heran bila nama kabupaten hasil pemekaran dengan Baubau, Sulawesi Tenggara,
itu identik dengan diving.
Di bawah pengawasan superketat, mulai melakukan discover
scuba diving di spot Waha Bay, Pulau Tomia. Waha Bay dipilih karena selain
pemandangan bawah lautnya menakjubkan, lokasinya tidak terlalu jauh dari garis
pantai sehingga aman bagi penyelam pemula. Selain itu, arus dasar lautnya tidak
terlalu kencang.
Ternyata tidak perlu menyelam terlalu dalam untuk
membuktikan hasil survei tersebut. Baru menyelam sedalam satu atau tiga meter,
penyelam sudah dibuat kagum dengan indahnya gugusan karang.
Keindahan pemandangan dasar laut Wakatobi semakin lengkap
dengan kehadiran ikan-ikan,
binatang karang, dan tumbuhan. Ukuran ikan-ikan di
titik tersebut cenderung kecil karena arus dasar lautnya tidak besar.
Seorang instruktur diving, Kandis Semidang, menjelaskan,
salah satu karakter Wakatobi adalah banyaknya pinnacle atau puncak dari
gunung-gunung kecil setinggi tiga hingga empat meter. Di puncaktersebut
terdapat banyak karang yang menjadi rumah bagi ikan kecil.
“Selain itu banyak juga sloping atau jalan menurun dari
permukaan ke dasar laut. Di sana banyak karang-karangnya,” jelas pria yang
sudah menjadi instruktur selam sejak 2010 itu.
Kandis menambahkan, sebenarnya ada puluhan spot di sekitar
Tomia yang menawarkan pemandangan lebih menakjubkan lagi. Di antara puluhan
spot tersebut Marimabuk dan Ali Reef layak dijajal.
Di dua lokasi itu, arus dasar lautnya relatif lebih besar
dibanding Waha Bay sehingga para penyelamnya pun harus ahli atau sudah
certified.
Kandis menjelaskan, arus dasar laut yang lebih deras menjadi
tempat bagi ikan berukuran besar di samping hewan laut lainnya. Kondisi ini
tentu menjadi incaran para divers.
“Kalau di Ali Reef ada ratusan ikan yang hidup dan berjalan
berkoloni. Mereka kemana-mana bersama sehingga menyuguhkan pemandangan menarik.
Kalau orang kita bisa menyebutnya ikan kuwe atau lebih kerennya schooling
jackfish,” beber instruktur yang juga mengelola dive center di Jakarta Selatan.
Sedangkan di Marimabuk, divers bisa menyaksikan dari dekat
barracuda dan crocodile fish.
Dia menegaskan, diver tidak diperkenankan memegang sembarang
ikan karena bisa jadi hewan tersebut beracun. Di laut Wakatobi juga bermukim
ular laut, namun mereka tidak akan mengganggu para divers.
Keindahan laut Wakatobi mendunia. Setiap hari ada saja
wisatawan asing yang melakukan diving di Tomia. Mereka umumnya merupakan para
penyelam andal dan bisa berada di Tomia berhari-hari bahkan lebih dari sepekan
untuk sekadar menelusuri sebanyak-banyaknya spot.
“Sekarang ini ada dari Jepang, California Amerika, juga
negara lain. Mereka suami istri mau diving, sudah berhari-hari di sini,” tutur
Abi, seorang pemilik resort di Kelurahan Waha, Kecamatan Tomia.
Para turis asing melakukan diving sejak pagi hingga sore
setiap hari menyewa perahu warga serta didamping instruktu


No comments:
Post a Comment