Fakta menarik tentang Suriname
Tak banyak orang yang tahu tentang Suriname dan sejarah yang
melingkupinya. Meski begitu, Indonesia memiliki kedekatan sejarah dengan negara
yang terletak di Amerika Selatan ini, karena ada sekitar 75.000 orang Jawa
yang dibawa ke sana oleh Belanda antara tahun 1890-1939.
yang dibawa ke sana oleh Belanda antara tahun 1890-1939.
1.Geografi
Suriname terletak di pesisir
timur laut Amerika Selatan, yang berbatasan dengan Guyana di bagian barat,
Guyana Prancis di bagian timur, dan Brazil di bagian selatan. Lebih dari 80
persen wilayah Suriname masih berupa semak belukar yang dihuni oleh berbagai
satwa dan flora. Negara berjuluk Guyana Belanda ini dikenal karena
keanekaragaman floranya, terutama jenis kayu keras seperti Bruinhard,
Purplehard dan Zwartekabes. Jenis kayu ini merupakan komoditas ekspor yang
menjadi sumber devisa yang sangat penting bagi negara bekas jajahan Belanda
tersebut.
2.Penduduk
Penduduk pertama Suriname awalnya
adalah orang Indian Surinen. Kemudian pada abad ke-16, mereka digantikan oleh
orang Indian Amerika Selatan. Spanyol menduduki Suriname pada tahun 1593,
tetapi pada tahun 1602, Belanda mulai merebut daerah itu, yang kemudian diikuti
oleh Inggris. Inggris kemudian memberikan kedaulatan Suriname kepada Belanda
pada tahun 1667 dalam Perjanjian Breda.Penjajah mempekerjakan budak Afrika
sebagai tenaga kerja untuk perkebunan kopi dan tebu. Saat itu, banyak budak
Afrika yang melarikan diri ke pedalaman, yang kemudian disebut Bush Negro oleh
Belanda. Setelah tahun 1870, Belanda mengimpor buruh dari India Timur, yang
berasal dari British India, dan Jawa yang berasal dari Hindia Belanda.
3.Politik
Suriname juga dikenal sebagai
Guyana Belanda. Koloni ini diintegrasikan ke dalam kerajaan Belanda pada tahun
1948. Setelah terjadi kerusuhan karena tingginya pengangguran dan inflasi di
negara tersebut, Belanda akhirnya memberikan Suriname kemerdekaan penuh pada 25
November 1975. Selama lebih dari tahun 1980, Suriname berada di bawah kendali
represif Letnan Kolonel Desi Bouterse. Belanda lantas menghentikan semua
bantuannya kepada Suriname tahun 1982, ketika tentara Suriname menewaskan 15 wartawan,
politisi, pengacara, dan pejabat serikat.Anggaran pertahanan terus meningkat,
dan perlahan perekonomian Suriname hancur. Sebuah pemberontakan gerilya yang
dilakukan oleh Jungle Commando (kelompok gerilya Bush Negro) berhasil
mengacaukan negara dan menekan pemerintahan Desi Bouterse. Pemilihan umum yang
diselenggarakan pada tanggal 25 Mei 1991, yang berhasil mencabut semua kekuasan
militer di Suriname. Pada tahun 1992, sebuah perjanjian damai ditandatangani
antara pemerintah dan beberapa kelompok gerilya.
4.Bahasa Jawa
Orang Jawa yang didatangkan ke
Surinama sebagai kuli kontrak oleh Belanda memunculkan istilah bahasa Jawa
Suriname. Bahasa ini dipakai oleh komunitas masyarakat Jawa yang berjumlah
kurang lebih 75.000 jiwa kala itu. Orang-orang yang Jawa yang dibawa ke
Suriname umumnya adalah para petani dan buruh kasar yang tuna aksara atau tidak
bisa membaca. Orang Indonesia yang diangkut ke Suriname kebanyakan berasal dari
Jawa Tengah, lalu Jawa Timur, dan terakhir Jawa Barat. Kala itu, mayoritas kuli
kontrak yang dibawa Belanda berasal dari Karesidenan Kedu(Kabupaten Magelang
dan sekitarnya). Maka dari itu, bahasa Jawa Suriname hampir mirip dengan bahasa
Jawa Kedu. Namun, ada beberapa istilah Melayu yang juga digunakan dalam bahasa
Jawa Suriname.
Oud jaar adalah istilah untuk
malam tahun baru di Suriname yang berarti tahun lama. Selama acara tahunan itu
berlangsung, warga Suriname akan berkumpul di pusat kota untuk melihat kembang
api. Perayaan ini dimulai sejak pukul 10.00 sampai keesokan harinya.
Menariknya, perayaan di jalan-jalan akan berhenti sejenak antara pukul 22.00
dan 23.00, karena semua orang akan pulang ke rumah untuk menyalakan paragas,
sejenis petasan. Lalu, pesta di jalan-jalan kota akan kembali dimulai hingga
fajar menyingsing.Inilah lima fakta menarik tentang Suriname yang wajib untuk
Anda ketahui. Bagaimana pun, kita sebagai orang Indonesia memiliki hubungan
erat dengan negara berjuluk Guyana Belanda tersebut.6.Momen lucu saat Duta Besar (Dubes) Suriname dengan Indonesia
jokowi grogi saat
melakukan percakapan dengan Duta Besar (Dubes) Suriname untuk Indonesia, Pertemuan digelar di Balai Kota Jakarta.Ada yang
menarik dalam pertemuan itu. Jokowi secara tiba-tiba memintak Dubes Suriname
untuk berbahasa Jawa saat menyampaikan maksud kedatangannya. "Pake bahasa
Jawa kasar saja," kata Jokowi mengawali perbincangan dengan Amina.Keduanya
sempat berbincang secara formal di kursi yang telah disediakan oleh protokoler.
Karena terlalu formal, Jokowi lantas mengajak Amina Pardi berbicara di depan
awak media.Sambil berdiri, dengan bahasa Jawa campur-campur, Amina memberanikan
diri berbicara bahasa Jawa di depan Jokowi . "Isin, bahasa Jawane orak
podo, marai isin dirungokne sak negoro Indonesia. Orak pantes ngomong bahasa
Jowo karo Pak Gubernur Jokowi ," kata Amina mengawali pembicaraan di depan
Jokowi .Lantas Amina mengungkapkan maksud kedatangannya ke Balai Kota.
"Kulo Dubes Suriname, iki campur-campur (bahasa Jawa-nya). Matur suwon
banget, Pak Jokowi Gubernur Jakarta saget nompo Dubes Suriname. Orak ngerti nek
iki ditunggu ngomong Jowo, marai isin, Jowo Suriname bedo banget. Mbah ku biso
bahasa Jowo kromo inggil, tapi generasi nom, orak iso Pak Pak Jokowi . Maaf Pak
Jokowi . Nak dikon ngene, yo tak cobo,"Amina menjelaskan, ia ingin ada
kerja sama antara Suriname dengan Jakarta. Selain soal pertanian, juga ada
kerja sama dalam sektor budaya Jawa seperti wayang.Mendengar permintaan Amina,
Jokowi lantas menyetujuinya. Jokowi juga membalasnya dengan menggunakan bahasa
Jawa."Inggih, spendak kulo ngatoraken, sugeng rawoh, dumateng duta besar
Suriname. Ekang kapeng kaleh, kulo sampun ngedikaake Ibu Dubes. Bilih wonten
keinginan sesarengan nindaaken kerjo sareng-sareng Jakarta kalean Suriname. Sae
sanget mbok bilih tahun ngajeng Jakarta bade ngirim budoyo ketang Suriname.
Misal tarian saking Jawi, lan sanes-sanesipun," ujar Jokowi .



No comments:
Post a Comment